Trending

Menghayati Malam Nuzulul Qur’an

 

TERANGKALIMANTAN.COM,Banjarmasin - Malam Nuzulul Qur’an menjadi salah satu momen istimewa di bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan rahmat dari Allah SWT. 

Pada malam itulah umat Islam mengenang peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, yang menjadi awal diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia.

Agar ibadah di malam Nuzulul Qur’an semakin bermakna, umat Islam dianjurkan memahami bagaimana proses turunnya Al-Qur’an. 

Ustadzah Hj. Fatimah Azzahra, Ns, MARS menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an terjadi melalui tiga tahapan.

Tahap pertama adalah turunnya Al-Qur’an dari Allah SWT ke Lauhul Mahfudz. Kemudian pada tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia.

Dalam kitab Marah Labid, Syeikh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa Malaikat Jibril membawa Al-Qur’an secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar, yang disebutkan terjadi pada 24 Ramadhan. 

Setelah itu, wahyu tersebut diserahkan kepada malaikat safarah untuk dituliskan pada lembaran-lembaran dan disimpan di Baitul Izzah.

Tahap ketiga adalah proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap dari Baitul Izzah kepada Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun. Wahyu pertama diturunkan pada malam 17 Ramadhan ketika Rasulullah sedang bertahannus atau menyendiri untuk beribadah di Gua Hira.

Saat itu, Malaikat Jibril datang membawa wahyu dan memerintahkan Nabi dengan kata “Iqra” (Bacalah). Rasulullah yang terkejut menjawab bahwa dirinya tidak dapat membaca. Perintah tersebut diulang hingga tiga kali, hingga akhirnya dengan izin dan kebesaran Allah SWT, Rasulullah mampu membaca wahyu pertama yang kemudian dikenal sebagai awal turunnya Al-Qur’an.

Peristiwa inilah yang kemudian diperingati umat Islam sebagai Nuzulul Qur’an. Setelah wahyu pertama, ayat-ayat Al-Qur’an terus diturunkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan umat, terkadang satu ayat, beberapa ayat, bahkan satu surah sekaligus.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril menemuinya setiap malam untuk mempelajari Al-Qur’an bersama.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَجْوَدَ ‌النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas ra berkata," Rasulullah saw merupakan orang yang paling dermawan dan ia sangat dermawan saat bertemu malaikat Jibril. Jibril menemuinya setiap malam pada bulan Ramadhan dan membaca Al-Qur’an dengan Nabi Muhammad saw. Sungguh Rasulullah saw ketika bertemu Jibril sangat dermawan dengan kebaikan dibandingkan angin yang berhembus" (HR Bukhari).

Karena itu, bulan Ramadhan juga dikenal sebagai Syahru Nuzulul Qur’an wa Tilawatih, yaitu bulan turunnya Al-Qur’an sekaligus bulan untuk memperbanyak membaca dan mengkaji Al-Qur’an.

إنَّ هذا القرآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فتَعَلَّموا مَأْدُبَتَه ما استطعتم وإنَّ هذا القرآنَ هو حبلُ اللهِ وهو النورُ المبينُ والشفاءُ النافعُ عِصْمَةُ مَن تَمَسَّك به ونجاةُ مَن تَبِعَه لا يَعْوَجُّ فيُقَوَّمُ ولا يَزِيغُ فيُسْتَعْتَبُ ولا تَنْقَضِي عجائبُه ولا يَخْلَقُ عن كَثْرَةِ الرَّدِّ اتلُوه فإنَّ اللهَ يأجرُكم على تلاوتِه بكلِّ حرفٍ عَشْرُ حسناتٍ أَمَا إني لا أقول ب الم حَرْفٌ ولكن بالألفِ عَشْرًا وباللامِ عَشْرًا وبالميمِ عَشْرًا"

“Rasulullah saw bersabda “Al-Qur'an ini adalah jamuan dari Allah, maka ambillah sebanyak mungkin dari jamuan-Nya. Al-Qur'an ini adalah tali Allah, dan ia adalah cahaya yang terang dan obat yang bermanfaat. Ia adalah perlindungan bagi siapa pun yang berpegang teguh padanya dan keselamatan bagi siapa pun yang mengikutinya. Ia tidak menjadi bengkok sehingga perlu diluruskan, dan tidak pula menyimpang sehingga perlu dikoreksi. Keajaibannya tidak pernah berhenti, dan ia tidak menjadi usang karena sering dibaca. Bacalah, karena Allah akan memberi pahala kepada kalian atas setiap huruf yang membacanya sebanyak sepuluh amal kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim adalah satu huruf, tetapi sepuluh untuk Alif, sepuluh untuk Lam, dan sepuluh untuk Mim.”

Melalui momen Nuzulul Qur’an, umat Islam diingatkan kembali bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, cahaya, sekaligus penawar bagi kehidupan. Membacanya, mempelajarinya, dan mengamalkannya menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meneladani Rasulullah SAW.

"Semoga kita bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan yang mulia ini, dan selalu meneladani Rasulullah Saw," Harap Ustadzah Zahra

(TK - Oc)

Lebih baru Lebih lama